Minggu, 28 April 2013

tugas 3


Penelitian Lebih Diarahkan pada Kemandirian Obat dan Vaksin
       Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Endang Rahayu Sedyaningsih, mengharapkan para peneliti lebih mengembangkan penelitian ke arah kemandirian obat dan vaksin. Pernyataan itu disampaikan Menkes di hadapan para peneliti Fakultas Kedokteran (FK) UGM dalam kunjungannya meninjau dua laboratorium di Gedung Radioputro FK UGM, Jumat (29/1).
      Disampaikan oleh Menkes bahwa pihaknya akan mendukung terbentuknya beberapa pusat penelitian pengembangan penelitian obat dan vaksin melalui sinergi pemetaan antargrup penelitian. Penelitian sebaiknya lebih ke arah kemandirian obat dan vaksin. Kita akan membantu, semakin banyak pusat peneltian yang mampu, semakin baik untuk Indonesia, kata Menkes.
     Kendati demikian, Menkes juga berharap pusat-pusat grup penelitian tidak melakukan penelitian yang sama, tetapi yang berbeda agar dapat saling melengkapi. Jangan khawatir, semua yang mau maju akan didukung. Saya minta kita punya kekuatan yang tersebar, saling melengkapi, tidak melakukan yang sama sehingga secara bersama-sama bergerak maju, tuturnya.
     Dalam kesempatan tersebut, Menkes mengakui kualitas penyelenggaraan pendidikan di FK UGM sudah lebih baik. Namun, dirinya meminta tugas pengabdian kepada masyarakat diperluas lagi dengan menerima lebih banyak mahasiswa dari daerah.Dalam arti, menerima mahasiswa yang mau kembali ke daerah, saling dibantulah dari daerah. Memang ada standar yang harus dipenuhi, misalnya dari daerah itu susah lulusnya, tambahnya.
    Oleh karena itu, Menkes juga mengharapkan calon tenaga kesehatan yang menjalani pendidikan di FK UGM didorong untuk kembali ke daerah. Memotivasi kuat agar mereka bisa bekerja dan kembali ke daerah, Depkes akan menyediakan fasilitas di daerah, ujarnya.
    Dalam kunjungannya ke UGM, Menkes dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, bertemu dengan Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M. Eng., Ph.D. Kepada keduanya disampaikan pemaparan rencana UGM menuju universitas kelas dunia oleh Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. Retno. S. Sudibyo, M. Sc., Apt., di Ruang Senat Akademik.
     Setelah selesai jamuan makan siang, kedua menteri berkesempatan meninjau Laboratorium Biologi Molekuler FK UGM. Dalam kesempatan itu, Menkes mendapat penjelasan dari peneliti di Laboratoium Biologi Molekuler FK UGM tentang penelitian pengembangan imunoterapi kanker nasofaring. Menkes meminta agar laboratoium tersebut dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pemeriksaan multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB), yakni penyakit TB yang resistan terhadap berbagai jenis obat. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

         Perusahaan Sanofi telah berkiprah dalam penemuan dan pengembangan obat-obatan untuk para pasien yang sedang mengalami penyakit dan usaha penyembuhan. Kiprahnya dalam pelayanan kesehatan dan pengobatan mendasarkan pada solusi diabetes, vaksin untuk manusia, obat-obatan inovatif, penyakit langka, pelayanan kesehatan konsumen, pasar-pasar berkembang dan kesehatan hewan. Perusahaan yang memiliki kantor yang berpusat di Paris ini, telah mengalami pasang surut dalam perkembangan dunia medis.

       
     Setelah keberhasilannya dalam menangani dan mengatasi serta menemukan vaksin untuk berbagai penyakit yang dialami oleh manusia, maka perusahaan tersebut masuk ke Indonesia untuk memberikan bantuan berupa pengetahuan medis dan vaksin serta obat-obatan yang dibutuhkan oleh para penderita suatu penyakit. Di Indonesia sendiri, keberadaan Sanofi telah berusia 50 tahun dan melakukan riset serta pengembangan obat-obatan, vaksin yang inovatif. Kiprahnya selama ini, dengan 700 karyawan yang dimiliki untuk berusaha membantu kesehatan masyarakat melalui kemitraan bersama pemerintah, tidak mengenal lelah, dan terus mencari solusi pengobatan untuk kesembuhan pada suatu penyakit.

      
    Berbagai penelitian pada suatu penyakit yang ditularkan dari binatang ke manusia, terus dikembangkan untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Di antaranya demamberdarah yang disebabkan oleh gigitan nyamuk yang umumnya tersebar di negara-negara tropis, termasuk Indonesia. Penelitian dan pengembangan terus ditingkatkan untuk menemukan obat yang bisa menangkal dan menymbuhkan bagi penderitanya. “Bagi Sanofi, Indonesia merupakan tempat yang ideal untuk memberikan bantuan dalam perawatan dan pengobatan melalui vaksin dari Sanofi,” menurut Eric Ng, Presiden Direktur Sanofi Group Indonesia yang baru terpilih saat ini.
       Ia menambahkan, bahwa tujuan Sanofi di Indonesia adalah untuk memberi bantuan kesehatan, terutama dalam pengobatan demam berdarah, karena iklim yang ada di Indonesia sangat rentan terhadap epidemik demam berdarah. Demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk malaria Aedes Agepty. Penyakit ini sangat berbahaya dan dapat memakan korban jiwa bila tidak segera diobati secara benar. Berbagai sumber dan bahkan pernah kita saksikan bagaimana demam berdarah itu dapat membuat orang menjadi lemah dan banyak rumah sakit-rumah sakit menamung para penderita demam berdarah, karena meningkatnya nyamuk malaria.
    
       Perusahaan yang berlokasi di Pulo Mas, Jakarta ini, telah mengalami proses perjalanan yang cukup panjang dan bersama ratusan karyawannya melakukan pekerjaan mereka untuk menyebarkan pendidikan kesehatan kepada masyarakat, baik langsung maupun secara tidak langsung. Pendidikan kesehatan dan kerjasama dengan pemerintah agar dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terus ditingkatkan. ”Sanofi akan menjadi perusahaan      farmasi yang dapat bersaing dengan perusahaan farmasi lainnya,” jelas Eric.
      Mungkin hanya sedikit orang saja yang mengetahui tentang obat-obatan yang berasal dari Sanofi, atau bahkan orang baru mendengarnya saat ini. Hal itu karena kode etik hukum yang berlaku di negara-negara Asia termasuk Indonesia, yang melarang menyebutkan merek vaksin, obat berasal dari mana. Hanya pada negara AS dan New Zeeland yang memperbolehkan menyebutkan nama branded tersebut. ”Oleh sebab itulah nama Sanofi kurang diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya,” kata Eric.
    Selain itu, Sanofi pun melakukan riset dan pengembangan pada bidang kemotherapi yang di tujukan untuk pengobatan kanker payudara. Berbagai sumber dan berita yang pernah kita dengar dan riset yang menyatakan bahwa kanker payudara merupakan penyakit yang dapat mematikan dan berbahaya, yang menyerang pada wanita. Mengetahui hal itu, berbagai disiplin ilmu kesehatan melakukan riset dan pengembangan untuk menemukan cara penanggulangan melawan dan menyembuhakan penyakit kanker payudara. Di sini Sanofi, ikut berperan aktif dan melakukan inovasi dalam pengobatan kanker payudara terhadap wanita.
     Kanker payudara sangat menakutkan bagi para wanita, karena dapat mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Namun seiring perkembangan dan kemajuan dunia medis, kini mulai ditemukan solusi pengobatan terhadap kanker payudara. ”Kemotherapi adalah alat untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit kanker payudara,” jelas Eric