Jumat, 07 Juni 2013

keperawatan komunitas



Keperawatan Komunitas

A.          Definisi keperawatan komunitas
Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guns meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pence-gahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan kepera¬watan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pads kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pela¬yanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Spradley, 1985; Logan and Dawkin, 1987).
Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilaku¬kan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini bersifat menye¬luruh dengan tidak membatasi pelayanan yang diberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan masya¬rakat.
B.     Fungsi

 
         Fungsi keperawatan komunitas dalam memberikan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah diantaranya :
a.    Fungsi sebagai Manajer Kasus:
1)      Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan,
2)      Menyusun rencana pelayanan keperawatan dan pelayanan kesehatan lainnya di rumah,
3)      Mengkoordinir aktifitas tim kesehatan multidisiplin dalam memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien di rumah,
4)      Memantau kualitas pelayanan keperawatan dan pelayanan kesehatan lainnya yang diberikan kepada pasien di rumah.
   
    b.      Fungsi sebagai Pemberi Asuhan:
1)      Melakukan pengkajian asuhan keperawatan secara komprehensif,
2)      Menetapkan masalah (diagnosa keperawatan),
3)      Menyusun rencana keperawatan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasien dan potensi  keluarga,
4)      Melakukan tindakan keperawatan langsung mencakup tindakan mandiri dan tindakan kolaboratif,
5)      Melakukan observasi terhadap kondisi kesehatan dan perkembangan/respon pasien,
6)      Membantu pasien dan anggota keluarga mengembangkan perilaku koping yang efektif,
7)      Melibatkan anggota keluarga dalam memberikan perawatan pasien di rumah,
8)      Membimbing semua anggota keluarga dalam melakukan aktifitas promosi dan pemeliharaan kesehatan,
9)      Melakukan evaluasi  asuhan keperawatan,
10)  Mendokumentasikan asuhan keperawatan.
     c.       Fungsi sebagai Pendidik:
1)      Mengidentifikasi pasien dan keluarga akan pendidikan kesehatan,
2)      Memilih metode pembelajaran dan menyiapkan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan masalah pasien dan keluarga,
3)      Menyusun rencana kegiatan pendidikan kesehatan,
4)     Melaksanakan pendidikan kesehatan terkait dengan masalah kesehatan pasien.
5)      Mengajarkan anggota keluarga tentang keterampilan dan strategi yang dibutuhkan dalam mengasuh anggota keluarga yang sakit,
6)      Mendorong keluarga untuk melakukan upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan melalui perilaku hidup sehat,
7)      Mendokumentasikan kegiatan pendidikan kesehatan.
d.      Fungsi sebagai Kolaborator:
1)      Melakukan kerjasama dengan anggota tim kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan pasien,
2)      Melakukan kerjasama dengan sumber-sumber/fasilitas pelayanan yang ada di masyarakat untuk menyelesaikan masalah kesehatan pasien.

e.       Fungsi sebagai Pembela:
1)      Mendemonstrasikan tehnik komunikasi efektif dengan pasien dan keluarga di rumah,
2)      Menghormati hak pasien,
3)      Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan,
4)      Melaksanakan fungsi pendampingan,
5)      Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga terkait dengan sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kesehatan,
6)      Memfasilitasi pasien dalam memanfaatkan sumber-sumber untuk mengatasi masalah kesehatannya.
f.       Fungsi sebagai Konselor:
1)      Membantu penyelesaian masalah pasien dan keluarganya,
2)      Membantu pasien dan keluarga mempertimbangkan berbagai solusi dalam rangka menetapkan cara yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga,
3)      Menunjang komunikasi efektif keluarga untuk meningkatkan penyelesaian masalah,
4)      Mengkomunikasikan bahwa keluarga bertanggung jawab memilih alternatif penyelesaian masalah.
g.      Fungsi Penemu Kasus dan Melakukan Rujukan:
1)      Mengembangkan pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala atau faktor yang berkontribusi dengan kondisi atau masalah yang akan dicari,
2)      Menggunakan proses diagnostik untuk mengidentifikasi potensi masalah kesehatan atau kondisi tertentu,
3)      Menetapkan kebutuhan rujukan yang sesuai,
4)      Melakukan rujukan terhadap kasus yang perlu penanganan dari tim kesehatan lainnya,
5)      Menyediakan pelayanan tindak lanjut  terhadap kasus yang teridentifikasi.
h.      Fungsi Penata Lingkungan Rumah
1)      Memodifikasi lingkungan yang memungkinkan peningkatan kesehatan pasien,
2)      Memodifikasi lingkungan yang memungkinkan pasien mandiri dalam perawatan dirinya.
i.        Fungsi Peneliti:
1)      Mengidentifikasi masalah-masalah yang dapat diteliti,
2)      Merancang dan melakukan penelitian keperawatan,
3)      Menyebarluaskan hasil penelitian,
4)      Mengaplikasikan temuan hasil riset ke dalam praktik.

C. Aplikasi

    Keperawatan kesehatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan
perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-kultural-spiritual) terhadap
kesehatan masyarakat dan memberikan prioritas pada strategi pada pencegahan
penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi yang mengacu pada
paradigma keperawatan secar umum dengan empat komponen dasar yaitu; manusia,
kesehatan, lingkungan dan keperawatan.
·         Pengorganisasian masyarakat
Tiga model pengorganisasian masyarakat menurut Rothman (1998) meliputi
peran serta masyarakat (localiti developmen), perencanaan sosial melalui birokrasi
pemerintah (social developmant) dan aksi sosial berdasarkan kejadian saat itu (social
action) (Mubarak, 2009).
Pelaksanaan pengorganisasian masyarakat dilakukan melalui tahapan-tahapan
berikut:
1) Tahap persiapan
Dilakukan dengan memilih area atau daerah yang menjadi prioritas,
menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat , mempelajari dan
bekerjasama dengan masyarakat.
2) Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian dengan pola yang
ada dimasyarakat dengan pembentukan kelompok kerja kesehatan.
3) Tahap pendidikan dan pelatihan
Melalui kegiatan-kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
melalui pengkajian, membuat pelayanan keperawatan langsung pada individu,
keluarga dan masyarakat.
4) Tahap formasi kepemimpinan
Memberikan dukungan latihan dan mengembangkan keterampialan yang
mengikuti perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan  kegiatan pendidikan kesehatan.


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar